• Jam Buka Toko: 07.30 s/d 17.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 081 222 662 914
  • SMS/WA: 0878 2284 5530
  • Line : Kerudung_Bagus
  • BBM : 5FB05B30
  • cs.kerudungbagus@gmail.com
Terpopuler:

5 Cara Pendidikan Seorang Ayah Kepada Anak Perempuan

14 Mei 2018 - Kategori Blog

Islam memuliakan anak perempuan. Selain dalam Al Qur’an, dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didapati pula larangan yang jelas dari mengubur anak perempuan. Hadits ini disampaikan oleh Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلأُمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka pada ibu, menolak untuk memberikan hak orang lain dan menuntut apa yang bukan haknya, serta mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah membenci bagi kalian banyak menukilkan perkataan, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Al-Bukhari no. 5975 dan Muslim no. 593)

Wa`dul banat adalah menguburkan anak perempuan hidup-hidup sehingga mereka mati di dalam tanah. Ini merupakan dosa besar yang membinasakan pelakunya, karena merupakan pembunuhan tanpa hak dan mengandung pemutusan hubungan kekerabatan. (Syarh Shahih Muslim, 12/11)

Di sisi lain, dalam agama yang mulia ini ada anjuran agar orang tua yang dikaruniai anak perempuan memuliakan anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menganugerahkan anak perempuan telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan:

جَاءَتْنِي مِسْكِيْنَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيْهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا، فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ وَأَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ

Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua anak perempuannya, maka aku memberinya tiga butir kurma. Kemudian dia memberi setiap anaknya masing-masing sebuah kurma dan satu buah lagi diangkat ke mulutnya untuk dimakan. Namun kedua anak itu meminta kurma tersebut, maka si ibu pun membagi dua kurma yang semula hendak dimakannya untuk kedua anaknya. Hal itu sangat menakjubkanku sehingga aku ceritakan apa yang diperbuat wanita itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka.” (HR. Muslim no. 2630)

Konsep fathering  sudah dikenal sejak Perang Dunia II. Saat itu,  Ayah diharuskan  berperang.  Ibu mengasuh anak di rumah.  Namun ternyata,  tanpa keterlibatan ayah, anak menunjukkan  perilaku agresif, hiperaktif, cemas, tidak dan tidak. Sejak itulah keterlibatan ayah dianggap penting dalam mengasuh anak.

Ayah  menganggap anak perempuan  sebagai  putri kecilnya. Layaknya putri raja, anak perempuan biasanya diasuh ayah dengan kenyamanan. Seperti apa  gaya pengasuhan ayah pada anak perempuannya?

1. Menjalankan tugas sebagai protector atau pemberi perlindungan pada anak perempuannya. Ayah akan menjaga dengan benar agar anak perempuan nyaman dan tidak disakiti.

2. Langsung membela anak perempuannya yang diperlakukan secara kasar oleh teman sebayanya. Apalagi jika anak perempuannya sampai menangis. Ayah tidak sungkan untuk bertanya dan mencari siapa yang membuat tuan puterinya menangis.

3. Mengenalkan “dunia” laki-laki pada anak perempuannya. Dia mendapatkan identitas seksual sebagai perempuan dari sang Ayah yang memperlakukan dia sebagai anak perempuan dengan baik. Harapannya, ayah adalah laki-laki pertama yang ia kenal.

4. Mengenalkan sedikit kegiatan laki-laki pada anak perempuan, misalnya mencuci mobil. Mencuci mobil bukan hanya pekerjaan laki-laki. Tujuannya untuk melatih kemandirian, anak perempuan tetap bisa berdiri sendiri, tanpa perlu harus bergantung pada orang lain. Jika ingin bergantung, cuma boleh kepada ayahnya saja.

5. Berusaha menjadi laki-laki yang terbaik agar si kecil tidak memiliki gambaran laki-laki yang salah atau kecewa dengan sosok laki-laki.